
Rangkuman Al-Bidayah wa An-Nihayah (1/100)
Pernahkah kita meluangkan waktu sejenak di keheningan malam, menatap hamparan langit yang bertabur miliaran bintang, lalu membiarkan kesadaran kita ditarik mundur jauh melampaui batas waktu? Sebuah pertanyaan mendasar sering kali mengusik akal budi manusia: Apa yang ada sebelum semua keindahan kosmis ini tercipta? Sebelum dimensi waktu mulai berdetak, sebelum ruang membentang tanpa batas, sebelum ada konsep terang dan gelap, dan jauh sebelum jejak kaki manusia pertama menapak di bumi, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menorehkan lembaran sejarah penciptaan yang teramat agung.
Mengkaji lembaran awal alam semesta ini bukanlah sekadar usaha memuaskan dahaga intelektual akan sejarah kuno. Lebih dari itu, ini adalah sebuah perjalanan spiritual. Ia adalah sarana untuk membawa kita bertafakur, menyelami betapa Maha Kuasa, Maha Luas, dan Maha Besarnya Allah Azza wa Jalla, sekaligus menyadari betapa sangat kecil dan tidak berartinya kita di hadapan-Nya.
Ketiadaan Mutlak dan Penciptaan Arasy di Atas Air
Sebelum segala sesuatu ada, yang wujud hanyalah Allah semata. Ketiadaan absolut menyelimuti segalanya, tidak ada ruang yang bisa diukur, tidak ada waktu yang bisa dihitung, tidak ada materi sekecil atom pun yang eksis. Dalam kondisi ketiadaan itulah, Allah memulai penciptaan dengan kehendak-Nya yang mutlak.
Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW menjelaskan kondisi paling awal ini kepada para sahabat. Dari Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda:
“Allah telah ada dan tidak ada sesuatu pun sebelum-Nya, dan Arasy-Nya berada di atas air, kemudian Dia menuliskan segala sesuatu di dalam Adz-Dzikr (Lauhul Mahfudz), lalu Dia menciptakan langit dan bumi.” (HR. Bukhari no. 7418)
Berdasarkan riwayat ini dan penjelasan para ulama salaf, ciptaan fisik pertama yang dihadirkan di alam semesta adalah air, dan di atas air tersebut Allah menciptakan Arasy (Singgasana) kebesaran-Nya. Hal ini ditegaskan secara benderang dalam Al-Qur’an:
وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ
“Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah Arasy-Nya (sebelum itu) di atas air.” (QS. Hud: 7)
Kebesaran Arasy ini sama sekali tidak dapat dijangkau oleh rasionalitas, hitungan matematis, maupun imajinasi manusia paling cerdas sekalipun. Untuk sekadar memberikan gambaran betapa kerdilnya alam semesta fisik yang kita kenal ini, Rasulullah SAW pernah membuat sebuah analogi yang menggetarkan hati melalui riwayat Abu Dzar Al-Ghifari.
Beliau bersabda: “Tidaklah perbandingan langit yang tujuh (beserta seluruh isinya) dibandingkan dengan Kursi (pijakan kaki Allah) melainkan hanyalah seperti sebuah cincin besi yang dilemparkan ke tengah padang pasir yang sangat luas. Dan keutamaan Arasy dibandingkan dengan Kursi adalah seperti keutamaan padang pasir yang luas tersebut dibandingkan dengan cincin besi tadi.” (HR. Ibnu Hibban, dishahihkan oleh Al-Albani)
Bayangkan seluruh galaksi, tata surya, matahari, dan bumi kita ini digabungkan, itu semua belum ada apa-apanya dibanding Kursi-Nya. Sungguh, sebuah kemegahan hakiki yang seketika menundukkan akal dan meluluhkan keangkuhan manusia.
Qalam (Pena Takdir) dan Ketetapan Lauhul Mahfudz: Skenario yang Telah Selesai
Setelah Arasy dan air mewujud di alam semesta, Allah kemudian menciptakan Qalam (Pena). Di titik dimensi yang tak terjangkau nalar inilah sebuah peristiwa mahapenting terjadi, penulisan cetak biru (blueprint) takdir seluruh alam semesta.
Rasulullah SAW mengabarkan momen dialog kosmis antara Sang Khaliq dan ciptaan-Nya tersebut. Dari Ubadah bin Ash-Shamit RA, beliau bersabda:
“Sesungguhnya yang pertama kali Allah ciptakan (setelah Arasy dan air) adalah Qalam (pena). Lalu Allah berfirman kepadanya, ‘Tulislah!’ Ia menjawab, ‘Wahai Tuhanku, apa yang harus aku tulis?’ Allah berfirman, ‘Tulislah takdir segala sesuatu hingga terjadinya Kiamat.‘” (HR. Abu Dawud no. 4700, At-Tirmidzi no. 2155, dishahihkan oleh Al-Albani)
Dalam sekejap mata, Qalam itu menorehkan tinta gaibnya, mencatat takdir secara terperinci di dalam Lauhul Mahfudz. Ibnu Katsir menguraikan bahwa proses penulisan ini terjadi dalam jarak waktu yang sangat jauh sebelum wujudnya alam fisik. Hal ini dijawab secara akurat dalam hadits riwayat Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash RA:
“Allah telah mencatat takdir makhluk-makhluk lima puluh ribu tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi. Beliau bersabda: Dan Arasy-Nya berada di atas air.” (HR. Muslim no. 2653)
Misteri takdir ini adalah obat paling mujarab bagi kegelisahan hati manusia. Segala hal yang terjadi di alam semesta ini, kapan sebuah bintang akan hancur menjadi supernova, di mana sehelai daun kering akan jatuh terlepas dari rantingnya, siapa jodoh yang akan menemani hidup kita, hingga kapan tarikan napas terakhir kita berhembus di dunia ini, semuanya telah tertulis dengan rapi 50.000 tahun sebelum tata surya diciptakan. Tinta pena itu telah mengering, dan lembaran takdir telah dilipat. Tidak ada satu pun peristiwa yang luput dari skenario-Nya yang Maha Sempurna dan Maha Adil.
Enam Masa (Ayyam) Penciptaan Langit dan Bumi
Beranjak dari penciptaan Qalam dan penetapan takdir, Allah kemudian mulai menciptakan hamparan langit yang tujuh lapis dan bumi yang berlapis-lapis pula beserta seluruh isinya. Proses mahakarya ini diselesaikan dalam “enam masa” (sittati ayyam).
Para ulama tafsir, sebagaimana diuraikan panjang lebar oleh Ibnu Katsir, memiliki perbedaan pandangan tentang durasi pasti “enam masa” ini. Mengingat pada saat awal penciptaan itu wujud matahari dan bulan belum terbentuk (sehingga tidak ada perhitungan rotasi siang dan malam seperti yang kita kenal), sebagian besar ulama Ibnu Abbas dan Mujahid berpendapat bahwa satu hari di masa itu setara dengan seribu tahun dari perhitungan manusia di bumi.
Penciptaan ini dimulai dari hari Ahad hingga hari Jumat, di mana pada hari Jumat itulah bentuk penciptaan disempurnakan. Namun, muncul satu pertanyaan filosofis yang menggelitik: Mengapa Allah menciptakan alam semesta secara bertahap dalam enam masa? Bukankah Dia Dzat yang Maha Kuasa untuk menciptakannya dalam waktu kurang dari sekejap mata, hanya dengan berfirman “Kun” (Jadilah)?
Para mufassir seperti Imam Al-Qurthubi membedah hikmah mendalam di balik ini. Allah menciptakan secara bertahap bukan karena Dia kelelahan atau butuh waktu untuk berpikir. Maha Suci Allah dari sifat lemah semacam itu, sebagaimana firman-Nya menolak tuduhan kaum Yahudi yang menganggap Tuhan beristirahat di hari ketujuh:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَمَا مَسَّنَا مِنْ لُغُوبٍ
“Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan.” (QS. Qaf: 38)
Allah hendak mengajarkan sebuah nilai kehidupan yang fundamental kepada umat manusia: Hukum Keteraturan (Sunnatullah), Kehati-hatian, dan Proses. Alam semesta didesain dengan presisi hukum alam yang sangat ketat. Ini mengajarkan bahwa kelak manusia yang hidup di bumi harus memahami bahwa untuk mencapai sebuah tujuan, peradaban, atau kedewasaan spiritual, dibutuhkan proses, kesabaran, kerja keras, dan tahapan. Ketergesa-gesaan dan keinginan serba instan adalah kebalikan dari fitrah penciptaan alam semesta.
Malaikat dan Jin: Penghuni Langit dan Bumi di Era Pra-Manusia
Jauh jutaan tahun sebelum tubuh Adam AS dibentuk dari intisari tanah liat, ruang alam semesta ini tidaklah sunyi senyap. Allah mengisi ruang-ruang langit yang mahaluas dengan makhluk ciptaan-Nya yang taat, yakni para Malaikat. Dalam penciptaan makhluk-makhluk awal ini, terdapat spesifikasi bahan dasar yang berbeda-beda. Rasulullah SAW menjelaskannya secara gamblang dari lisan Aisyah RA:
“Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api tanpa asap, dan Adam diciptakan dari apa yang telah disifatkan (diceritakan) kepada kalian.” (HR. Muslim no. 2996)
Malaikat tercipta dari cahaya murni (nur). Mereka didesain tanpa memiliki hawa nafsu, hasrat keduniawian, maupun rasa letih. Hidup mereka seratus persen didedikasikan untuk bertasbih, rukuk, dan sujud mengagungkan kebesaran Sang Pencipta. Saking banyaknya jumlah malaikat yang tak terhitung, Rasulullah pernah mengisahkan tentang Baitul Makmur di langit ketujuh, tempat tawafnya para malaikat, di mana setiap harinya 70.000 malaikat masuk ke dalamnya untuk beribadah, dan setelah keluar, mereka tidak akan pernah kembali lagi ke sana hingga hari kiamat tiba karena panjangnya antrean malaikat yang lain. Di sisi lain, sebelum manusia turun, bumi telah diwariskan kepada entitas makhluk hidup lain, yaitu bangsa Jin. Al-Qur’an merekam eksistensi mereka jauh sebelum manusia eksis:
وَالْجَانَّ خَلَقْنَاهُ مِنْ قَبْلُ مِنْ نَارِ السَّمُومِ
“Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (QS. Al-Hijr: 27)
Berbeda secara fundamental dengan malaikat di langit, bangsa jin yang hidup di bumi dianugerahi kehendak bebas (iradah) dan hawa nafsu yang mirip dengan manusia. Mereka berinteraksi, membangun peradaban, menikah, dan berkembang biak. Sayangnya, ujian kebebasan ini gagal mereka emban dengan baik. Menurut penuturan Ibnu Abbas sebagaimana dikutip dalam Al Bidayah wan Nihayah, bangsa jin akhirnya jatuh ke dalam jurang kerusakan massal (fasad), saling berbuat zalim, dan menumpahkan darah sesama mereka demi memperebutkan kekuasaan duniawi.
Melihat bumi ternoda oleh darah dan kezaliman yang melampaui batas, murka Allah pun turun. Dia mengutus pasukan malaikat untuk memerangi bangsa jin yang durhaka tersebut, membasmi para pembuat kerusakan, dan memukul mundur sisa-sisa mereka hingga terasing ke pulau-pulau terpencil dan samudra yang jauh. Bumi pun kembali dibersihkan dan disucikan, dipersiapkan sebagai tempat panggung ujian bagi makhluk rasional jenis baru yang kelak akan ditugaskan sebagai khalifah.
Refleksi Cahaya Qalbu: Menundukkan Kesombongan di Hadapan Semesta
Membaca, menyelami, dan merenungi rentetan sejarah penciptaan kosmis yang begitu purba ini semestinya membuat akal kita terhenyak. Hati nurani kita seharusnya bergetar hebat saat menyadari betapa sangat, sangat kerdilnya eksistensi dan umur manusia di tengah pusaran sejarah alam semesta yang sedemikian panjang, megah, dan tak bertepi ini.
Imam Al-Ghazali di dalam Ihya’ Ulumiddin, khususnya pada “Kitab Keajaiban Kalbu” (Aja’ib al-Qalb), mengingatkan dengan keras bahwa aktivitas tafakkur (merenungkan ciptaan Allah) adalah ibadah batiniah tingkat tinggi. Tafakkur adalah senjata paling mutakhir untuk mematikan tumor penyakit hati, melunakkan hati yang membatu, dan memecahkan cangkang keegoan diri.
Ketika kita menutup mata dan membayangkan betapa masifnya Arasy yang menaungi miliaran galaksi, betapa tertatanya tujuh lapis langit tanpa sebatang tiang penyangga pun, dan betapa mutlaknya ketundukan triliunan malaikat kepada Allah, sebuah pertanyaan telak akan menampar kesadaran kita:
Masih pantaskah, bahkan untuk sebersit saja, sifat kesombongan (takabur), bangga diri (ujub), dan keangkuhan bersarang di dalam dada kita?
Penyakit kalbu seringkali meracuni dan membusukkan jiwa tatkala manusia tertipu oleh bayangannya sendiri. Kita merasa besar karena memiliki tubuh yang sehat; kita merasa berkuasa hanya karena memegang jabatan kecil di kantor; kita merasa aman karena tumpukan harta dan saldo rekening; atau yang paling ironis, kita merasa lebih suci, lebih mulia, dan berhak merendahkan orang lain hanya karena merasa ibadah dan ilmu agama kita lebih banyak dari mereka.
Padahal, dibandingkan dengan Kursi Allah yang membuat alam semesta terlihat bagai sebuah cincin di padang pasir, seluruh kekayaan duniawi, gelar mentereng, pangkat, piala, pengikut, dan ego manusia sama sekali tidak ada artinya, bahkan lebih hina dari sebutir debu yang diterbangkan oleh badai gurun. Segala atribut duniawi itu hanyalah fasilitas sementara yang bisa ditarik kembali oleh Pemilik Aslinya dalam hitungan detik.
Mari kita jadikan lembaran sejarah ketiadaan dan awal mula alam semesta ini sebagai cermin pembersih kalbu kita yang sering kali berkarat. Menumbuhkan rasa khauf (takut, gentar, dan takzim) kepada Dzat Yang Keagungan-Nya tak terbatas, sekaligus memupuk raja’ (harapan dan cinta) yang utuh dari dasar hati. Sebab, Dzat Yang Maha Dahsyat, yang mengangkat Arasy di atas air dan menuliskan takdir miliaran makhluk di Lauhul Mahfudz itulah, yang dengan penuh kasih sayang tanpa pamrih masih terus mengurus setiap hela napas kita hari ini, memompa darah ke jantung kita saat kita terlelap, dan mencukupkan rezeki kita meski kita sering abai mengingat-Nya.
Nantikan kelanjutan episode sejarah agung ini pada bahasan Penciptaan Adam AS, Pembangkangan Pertama, dan Tragedi Kesombongan Iblis.